LPPSP Jateng: Angka Pernikahan Dini Meningkat, Tapi Bukan Karena Pandemi Covid-19

LPPSP Jateng: Angka Pernikahan Dini Meningkat, Tapi Bukan Karena Pandemi Covid-19
nikah solo, normal baru, nikah paman keponakan, nikah semarang, dikotomi warganegara, nikah dini di sragen, jawa tengah

Solopos.com, SOLO – Tingkat pernikahan anak atau pernikahan dini pada Jawa Tengah meningkat selama pandemi Covid-19. Namun peningkatan itu bukan karena dampak pandemi virus.

Indra Kertati, Direktur Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya (LPPSP) Jawa Tengah, mengatakan peningkatan jumlah kawin dini atau kawin di bawah umur tidak terkait dengan pandemi Covid-19.

Dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia di media terkait Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) dan Konvensi Hak Anak (HKA) online, Rabu (24/3/2021), Indra menjelaskan kasus tersebut. Perkawinan anak sebenarnya tidak hanya terjadi pada masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Dari Jembatan Gilingan hingga Stasiun Kadipiro, Jembatan Layang Solo Joglo berjarak 1,8 km

Menurutnya, ada atau tidaknya pandemi, jumlah kasus pernikahan dini terus meningkat, termasuk di Jawa Tengah. Oleh karena itu, pandemi belum bisa dikatakan berdampak pada tingginya angka perkawinan anak.

Indra mengatakan, peningkatan angka kawin dini cukup fantastis, hampir dua kali lipat atau hampir 100%. Hal itu terlihat dari banyaknya permohonan dispensasi nikah ke Kantor Urusan Agama Kementerian Agama.

“Pernikahan anak, selalu ada. Namun kini kasusnya berubah. Kasus ini merupakan kerentanan yang terjadi pada anak perempuan yang tidak memiliki kemampuan untuk keluar dari situ,” jelasnya.

Baca juga: Gambar Terekam Jelas, Kamera CCTV ETLE Wonogiri mencakup area hingga 100 meter

Kekerasan Terhadap Gadis

Indra mengatakan, kasus pernikahan dini, termasuk di Jawa Tengah, termasuk kekerasan terhadap anak perempuan. Gadis tersebut harus melahirkan, putus sekolah, tidak memiliki akses kerja, dan pada akhirnya melahirkan kemiskinan baru. "Jadi, bagaimana kita bisa mengendalikan ini?" dia berkata.

Peran media sangatlah penting. Dalam hal ini bagaimana mengubah berita negatif menjadi positif kemudian mendidik dan tidak mengeksploitasi anak. Selain itu, basis utamanya adalah keluarga. Indra menilai saat ini religiusitas dalam keluarga tidak lagi dekat karena kesibukan masing-masing anggota keluarga.

Baca:  Angka kasus positif bertambah, Satgas Ternate perketat pengawasan 

Baca juga: ETLE Boyolali Libatkan Kamera CCTV Diskominfo, Di Mana Lokasinya?

Sementara itu, Reni Lestari, Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPPA PM) Solo, mengatakan pernikahan dini bisa jadi karena kondisi ekonomi keluarga. Menurutnya, ada anggapan jika anak menikah, orang tua bisa lepas dari tanggung jawab.

“Perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengurangi kasus perkawinan usia dini. Apalagi anak merupakan aset bangsa yang harus bisa terus berkreasi menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi masyarakat. Oleh karena itu, perlu ada pendampingan dari orang tua, ”jelasnya.

Postingan LPPSP Jawa Tengah: Angka Pernikahan Dini Meningkat, Tapi Bukan Karena Pandemi Covid-19 Muncul Pertama Kali di Solopos.com.