COVID-19

Sekolah Tatap Muka, Waspadai Titik Lengah Anak Tertular Corona

Sekolah Tatap Muka, Waspadai Titik Lengah Anak Tertular Corona

Waspadai sejumlah guard point anak tertular Corona saat sekolah dibuka (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA–Saat sekolah tatap muka dibuka, yang terbaik adalah mewaspadai sejumlah guard point untuk anak-anak yang terjangkit Corona. Apa pun?

Simak ulasan tips kesehatan kali ini. Seperti diketahui, sejumlah daerah sudah melakukan uji coba sekolah tatap muka. Salah satunya Pemprov DKI Jakarta akan melakukan uji coba sekolah tatap muka mulai 7-29 April 2021. Meski pembelajaran tatap muka disebut sangat diperlukan, langkah ini juga harus diikuti dengan kewaspadaan terhadap titik-titik kecerobohan anak. tertular Corona untuk menekan penyebaran virus Corona.

Menurut ahli mikrobiologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo, tantangan terbesar kegiatan sekolah tatap muka adalah sulitnya mengatur anak. Apalagi pada saat jam istirahat dan makan siang, tidak mungkin anak-anak menuruti nasehat untuk tidak saling berbicara.

“Kalau bicara banyak, cara penularannya banyak. Kalau bisa jangan ngobrol bareng ganti. Yang berbahaya waktu istirahat dan makan siang. Asal mulut tidak tertutup rongga terbesar. . Hidungnya tidak tertutup, tapi mulutnya besar, ”jelas Ahmad dalam webinar seperti dilansir laman tersebut detikcom, Jumat (9/4/2021).

Baca juga: WHO tidak mendukung penggunaan paspor vaksinasi Covid-19

Persiapan teknis sangat penting dilakukan untuk mengurangi risiko anak tertular virus Corona di sekolah, seperti dengan membuka jendela kelas dan mematikan AC untuk menjaga sirkulasi udara, serta membatasi konten kelas hingga 50 persen siswa.…

Kenapa Lansia Diprioritaskan untuk Mendapat Vaksin COVID-19 Lebih Awal?

Indonesia berlomba untuk memvaksinasi sebanyak mungkin kelompok rentan untuk COVID-19. Pada awalnya, kelompok prioritas vaksinasi COVID-19 dibagi menjadi 4 kriteria, yaitu Petugas kesehatan, petugas layanan publik, masyarakat rentan, dan pelaku masyarakat dalam perekonomian yang berada pada kelompok umur 18-59 tahun. Lansia belum termasuk dalam kelompok prioritas karena pertimbangan keamanan vaksin untuk kelompok rentan ini.

Namun, pada awal Februari, setelah merampungkan sebagian besar imunisasi untuk petugas kesehatan, pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan vaksinasi COVID-19 pada kelompok lansia berusia 60 tahun ke atas.

Alasan lansia harus diutamakan untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk tidak memasukkan lansia sebagai penerima prioritas pemberian vaksin COVID-19 karena pertimbangan keamanan vaksin.

Padahal beberapa negara lain telah menggunakan vaksin Sinovac untuk imunisasi COVID-19 pada lansia dan belum ada laporan dampak serius yang terjadi.

Banyak negara juga memprioritaskan kelompok lanjut usia untuk divaksinasi karena dianggap kelompok paling rentan terhadap COVID-19. Orang tua menyumbang setidaknya 47% dari jumlah kematian akibat COVID-19.

Masuknya lansia sebagai kelompok prioritas imunisasi COVID-19 bertujuan untuk mengurangi keparahan gejala, mengurangi beban rumah sakit, dan menurunkan angka kematian akibat COVID-19.

Berbagai kritik dan saran dari para ahli akhirnya mendorong pemerintah untuk melakukan studi keamanan vaksin Sinovac bagi lansia. Pemerintah mencermati hasil uji klinis vaksin Sinovac fase

Trauma Covid-19 Bisa Picu PTSD, Bagaimana Mengatasinya?

Trauma Covid-19 Bisa Picu PTSD, Bagaimana Mengatasinya?

asn karanganyar covid-19 wonogiri sukoharjo Infografik Positif Covid-19 (Solopos / Whisnupaksa)

Solopos.com, SOLO – Fenomena menyalahkan diri sendiri yang dialami relawan dan survivor Covid-19 Raafi Seiff merupakan peristiwa traumatis. Trauma Covid-19 yang bisa memicu gangguan stres pasca-trauma atau PTSD bagaimana mengatasinya?

Ini membutuhkan manajemen stres dan bimbingan untuk pasien Covid-19 saat berada di rumah sakit melalui bantuan psikolog. PTSD umum terjadi di antara penderita Covid-19. Di Cina, a penilaian online Dari 730 pasien Covid-19 di daerah isolasi yang disediakan pemerintah, 96,2% menderita PTSD. Sementara di Korea Selatan, 12-13 orang dari 64 penyintas mengalami PTSD dari wawancara telepon.

Studi lain menemukan bahwa dari 570 responden berusia 14-35 tahun di China, 12,8% mengalami PTSD. Ini terjadi karena itu ada gaya koping yang tidak bagus. Mengatasi adalah cara seseorang menghadapi masalah.

Baca juga: Diperkenalkan ke Indonesia, Dayana diundang ke KBRI Nur-Sultan

Sekretaris Jenderal Federasi Asosiasi Psikiatri Asia, Nova Riyanti Yusuf, berpendapat gejala PSTD bisa ditekan dengan penguatan. sistem pendukung pasien selama isolasi. Misalnya, rumah sakit menyediakan fasilitas pojok teman yang memungkinkan keluarga berkomunikasi dengan pasien, meski secara virtual.

Di Wisma Atlet, sistem pendukung dibangun dengan mengirimkan pesan suara yang berisi penegasan positif kepada semua pasien. "Jika tekanan psikologis Ketakutan yang tidak terawat akan perilaku kesehatan yang buruk dapat menghambat. Misalnya tidak kooperatif saat menangani …

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik Rabu (17/2/2021). Imunisasi dimulai dengan menargetkan 33 juta orang, yakni 16,9 juta untuk petugas pelayanan publik dan 21,5 juta lansia (usia 60 tahun ke atas). 

Kelompok prioritas vaksinasi COVID-19 tahap 2

pelaksanaan vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 tahap pertama telah dilakukan pada kelompok tenaga kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang berusia lanjut. Setelah kurang lebih satu bulan berjalan program vaksinasi, 1.120.963 tenaga kesehatan yang mendapat suntikan pertama dan 537.147 telah mendapat suntikan vaksin kedua pada 16 Februari 2021.  

Tidak adanya catatan efek samping atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berarti selama proses vaksinasi tahap pertama membuat pemerintah yakin untuk segera melanjutkan vaksinasi tahap kedua. Pada tahap kedua ini, pemerintah memprioritaskan petugas pelayanan publik dan kelompok lansia berusia 60 tahun ke atas. 

“Kelompok prioritas dalam tahap 2 ini kelompok yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi, sehingga sangat rentan terhadap COVID-19,” kata Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Maxi Rein Rondonuwu, dalam konferensi pers, Senin (15/2/2021).

Sedangkan lansia dinilai sebagai kelompok yang rentan mengalami COVID-19 dengan gejala berat. Oleh karena itu mereka masuk ke dalam kelompok prioritas

Wapres Syaratkan Fatwa Halal dan Izin BPOM Sebelum Vaksinasi Covid-19

Wapres Syaratkan Fatwa Halal dan Izin BPOM Sebelum Vaksinasi Covid-19

Wakil Presiden berkunjung sendirian

Solopos.com, JAKARTA – Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan prasyarat dikeluarkannya fatwa halal dan izin dari Food and Drug Administration terkait penggunaan vaksin Covid-19. Menurut dia vaksinasi virus korona baru akan dilakukan setelah terbitnya fatwa kehalalan vaksin Covid-19 dan rekomendasi dari BPOM.

Keputusan tersebut merupakan kesepakatan antara pemerintah dan ulama terkait pendistribusian dan penggunaan vaksin Sinovac yang akan dilakukan dalam waktu dekat. "Soal izin dan fatwa halal sudah ada kesepakatannya," kata juru bicara Wakil Presiden Masduki Baidlowi di Istana Wakil Presiden Jakarta melalui keterangan tertulis yang diterima. Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Rabu (6/1/2021).

Meski sudah didistribusikan, Wakil Presiden Ma'ruf Amin memastikan proses vaksinasi harus menunggu izin BPOM dan MUI. Distribusi dilakukan sejak awal untuk memastikan vaksinasi dapat dilakukan secara bersamaan. “Wilayah kita adalah negara kepulauan. Jadi harus dilakukan dari awal,” ujarnya.

5 Simbol Ini Kata Fengsui Membawa Rezeki Pulang

Terkait fatwa MUI, kata Masduki, Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap sertifikasi bisa selesai sebelum 13 Januari 2021. Saat ini, MUI tinggal menunggu pelaksanaan sidang fatwa terkait benar atau tidaknya Sinovac buatan China. vaksin untuk vaksinasi Covid-19. “Uji lapangan sudah selesai,” jelasnya.

Terkait vaksin lain yang akan masuk ke Indonesia, kata Masduki, rencananya vaksin baru akan tiba pada April atau …

30 Orang Reaktif Covid-19 dari Hasil Rapid Antigen di RSUD Karanganyar

30 Orang Reaktif Covid-19 dari Hasil Rapid Antigen di RSUD Karanganyar

jam kunjungan rapid test antigen RSUD karanganyar rapid test antigen karanganyar

Solopos.com, KARANGANYAR – RSUD Karanganyar mulai menerapkan layanan tes usap cepat antigen Covid-19 kepada masyarakat sejak Senin (28/12/2020). Selama tiga hari dibuka layanan, RSUD Karanganyar langsung mendapat permintaan tinggi dari masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian Penunjang Medik dan Non Medik RSUD Karanganyar Katarina Iswati saat dihubungi. Solopos.com, Kamis (31/12/2020). Ia mengatakan, selama pelaksanaan skrining Covid-19 dengan metode antigen usap cepat, RSUD Karanganyar telah melayani 200 orang.

Polisi: Gisel tidak sengaja merekam video porno, lalu menyebar

Dari total penggunaan rapid antigen device, 100 di antaranya digunakan pada saat public rapid antigen service dibuka.

"Kami sudah melakukannya sejak Senin [rapid antigen untuk umum]. Memang, secara umum penggunaan antigen cepat meningkat pesat. Selama tiga hari kami telah melayani sekitar 100 orang. Hari pertama sekitar 25 orang pada hari Senin, hari kedua dua kali lipat sekitar 50 orang, dan hari ketiga sekitar 20 orang. Permintaannya tinggi, tidak hanya dari pemudik, tapi dari masyarakat umum yang ingin mengetahui kondisi kesehatan Covid-19 juga, ”jelasnya.

Dari total penggunaan alat antigen cepat Covid-19, ia mengatakan sekitar 30 orang terdeteksi reaktif. Sebagai tindak lanjut dari kasus tersebut, pihaknya mendidik dan mengecek kondisi kesehatan yang bersangkutan.

Waspada Kasus Ledakan, Satgas Covid-19 Sukoharjo Siapkan 100 Tempat Tidur di RS MERC

Salatiga Batasi Ibadah Natal Cegah Covid-19

Salatiga Batasi Ibadah Natal Cegah Covid-19

Walikota Salatiga Yuliyanto. (Semarangpos.com-Humas Setda Salatiga)

Solopos.com, SALATIGA – Pemerintah Kota Salatiga, Jawa Tengah mengimbau penyelenggaraan ibadah Natal secara terbatas dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan ini harus dilakukan mengingat Kota Salatiga saat ini berada di zona merah sebaran Covid-19.

Wali Kota Salatiga Yuliyanto mengatakan, permohonan pembatasan pelaksanaan ibadah Natal sudah disampaikan kepada Badan Kerjasama Gereja (BKGS) Salatiga. Dengan langkah antisipatif tersebut, Pemerintah Kota Salatiga berharap dapat menekan angka penularan Covid-19 di salah satu kota di Jawa Tengah.

“Kita semua harus waspada dan memahami kondisi ini. Ini salah satu upaya kita mengendalikan penyebaran Covid-19,” kata Yuliyanto, Rabu (16/12/2020).

6 Tanda Zodiak Ini Mungkin Menjadi Mitra Terbaik Anda Saat Liburan

Selain pembatasan ibadah natal, Yuliyanto juga akan memberlakukan pembatasan kegiatan malam tahun baru di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Acara malam tahun baru akan diisi dengan doa bersama. “Ini acara sholat tertutup dan buka tahun. Tujuannya agar Allah segera menghentikan pandemi dan hidup berjalan normal kembali,” terangnya.

Perayaan Terlarang

Saat malam tahun baru, kafe dan hotel juga dilarang mengadakan acara atau pesta perayaan. Bagi yang melanggar, pihaknya tidak segan-segan membubarkan diri. “Seharusnya tidak ada acara, satgas dan tim gabungan akan patroli. Nanti kalau ada yang melanggar akan kami tindak tegas,” kata Yuliyanto.

Waspada, 4 Zodiak Ini Sering

HOAKS! Cebong Kebal Corona

HOAKS! Cebong Kebal Corona

cebong kebal corona

Solopos.com, JAKARTA – Sebuah cuitan di Twitter menyebutkan cebong kebal terhadap virus corona. Cuitan itu juga menyatakan perlu penelitian lebih lanjut apakah cebong bisa menyembuhkan virus corona.

Cuitan itu diunggah oleh akun Gus Kenthus @muslimpribumi, Jumat (20/11/2020). “Menurut fakta virus corona tdk berani mendekat ma cebong, apakah cebong itu bisa menyembuhkan corona? Perlu penelitian lebih lanjut,” tulis Gus Kenthus.

Hasil penelusuran Solopos.com tidak menemukan ada bukti ilmiah atas klaim cebong kebal corona. Gus Kenthus pun tidak menjelaskan lebih detail apa maksud cebong dalam cuitannya.

Puncak Merapi Bergemuruh Muntahkan Guguran Lava

Dari penelusuran Solopos.com, istilah cebong di Indonesia bisa dimaknai ke dalam dua hal yakni cebong sebagai berudu dan cebong sebutan untuk pendukung presiden Joko Widodo (Jokowi).

Klaim cebong atau berudu tidak tertular Covid-19 tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat. Solopos.com juga tidak menemukan riset atau kajian perihal cebong dan Covid-19.

Xenia dan Truk Adu Banteng di Sragen, 1 Meninggal 7 Luka-Luka

Klaim Kebal Covid-19

Begitu pula, soal klaim cebong diartikan sebagai sebutan pendukung Jokowi pada pemilihan presiden 2014 lalu. Klaim ini pun tak memiliki pijakan basis data yang memadai. Klaim ini sama sesatnya dengan orang Indonesia tidak tertular virus corona lantaran suka makan nasi kucing pada awal-awal …

Perlukah Tes Penciuman dalam Pemeriksaan COVID-19?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Melakukan tes kemampuan penciuman dianggap lebih efektif sebagai cara penapisan atau screening gejala awal COVID-19 dibanding pengetesan suhu tubuh. Hampir semua tempat umum melakukan penapisan atau screening dengan mengukur suhu tubuh pengunjungnya dengan thermogun atau thermal scanner. Padahal hanya ada sedikit bukti ilmiah bahwa pengukuran suhu tubuh dapat mengidentifikasi COVID-19. 

Kenapa tes kemampuan mencium lebih baik daripada pengecekan suhu tubuh sebagai alat penapisan?

Melakukan tes kemampuan penciuman dalam pemeriksaan gejala awal COVID-19

tes kemampuan penciuman lebih efektif untuk penapisan covid-19, Thermogun pengukur suhu

Tempat-tempat umum seperti kantor, pusat perbelanjaan, dan restoran mulai kembali dibuka. Sebagai langkah awal pencegahan, semua orang yang masuk diwajibkan mengenakan masker dan menjaga jarak. Selain itu di pintu masuk akan dilakukan pengecekan suhu tubuh yang hampir semuanya menggunakan termometer non-kontak seperti thermogun atau thermal scanner.  

Sayangnya pemeriksaan suhu bisa jadi sangat tidak efektif menunjukkan apakah seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak. Alasannya karena hasil pengukuran suhu dan alat termometer non-kontak ini tidak bisa diandalkan karena hanya mengukur suhu kulit. 

Selain itu, banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) atau demam bukan salah satu gejala awal yang timbul. Kebalikannya, orang yang demam belum tentu terjangkit COVID-19. 

Data dari aplikasi ZOE COVID Symptom Study yang dipublikasi di Jurnal Nature menunjukkan bahwa

Bagaimana Faktor Usia Memengaruhi Tingkat Kematian atau Kesembuhan COVID-19?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) sini.

Orang dari segala usia bisa meninggal COVID-19, tetapi semakin tua seseorang, semakin tinggi risikonya. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), risiko keparahan gejala COVID-19 meningkat pada orang tua.

Bagaimana usia memengaruhi tingkat keparahan gejala COVID-19?

kelompok usia berisiko memburuk dan kematian covid-19

CDC mengatakan bahwa orang berusia 50-an memiliki risiko gejala COVID-19 yang lebih parah daripada mereka yang berusia 40-an. Demikian pula, orang-orang berusia 60-an atau 70-an umumnya berisiko mengalami gejala yang memburuk.

Sekitar 8 dari 10 kematian terkait COVID-19 di AS terjadi pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas. Risiko gejala parah dan risiko kematian akibat infeksi virus corona baru meningkat seiring bertambahnya usia.

Jumlah kematian orang berusia 65-84 tahun diperkirakan 4-11 persen dari total kematian COVID-19 di AS, sedangkan mereka yang berusia 85 tahun ke atas mencapai 10-27 persen.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan observasi data kematian pasien di Jakarta. Peneliti mengklasifikasikan usia menjadi 5 kelompok yaitu, 0-9 tahun, 10-19 tahun, 20-49 tahun, 50-69 tahun, dan lebih dari 70 tahun.

Hasilnya, sebanyak 3.986 orang positif COVID-19, sebagian besar dari kelompok usia 20-49 tahun yaitu 51,2 persen. Namun kasus kematian terbanyak terjadi pada pasien dari kelompok usia 50-69 tahun.

"Analisis

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Saat ini seluruh dunia tengah menanti-nanti ketersediaan vaksin COVID-19. Berbagai lembaga riset di seluruh dunia berlomba-lomba menyelesaikan pembuatan vaksin tersebut. Sementara sejumlah negara mulai ancang-ancang untuk membeli dan menyediakan vaksin bagi warganya. Tak terkecuali Pemerintah Indonesia yang telah mengumumkan akan melakukan imunisasi vaksin COVID-19 pada November 2020.

Saat ini setidaknya ada sembilan calon vaksin yang berada di tahap uji klinis fase III. Di antara calon vaksin tersebut, tiga di antaranya memang telah disetujui untuk digunakan secara terbatas atau penggunaan darurat. Tiga calon vaksin tersebut yakni vaksin CanSino Biologics dan vaksin Sinovach Biotech dari Tiongkok serta vaksin Gamaleya Research Institute dari Rusia. 

Namun belum satupun yang dinyatakan lolos uji klinis fase III dan siap diedarkan secara masif sebagai penangkal infeksi virus SARS-CoV-2.

Lalu, adakah risiko jika vaksin yang dinyatakan belum lolos uji klinis diedarkan secara masif? Apakah rencana Indonesia melakukan vaksinasi ini akan menyelesaikan pandemi atau justru menimbulkan masalah baru?

Rencana imunisasi vaksin COVID-19 dan protes berbagai kolegium dokter

rencana vaksin covid-19 terburu-buru yang berbahaya

Pemerintah Indonesia berencana mulai menyuntikkan vaksin COVID-19 secara bertahap mulai November 2020. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, mengatakan akan memastikan ketersediaan vaksin untuk 9,1 juta orang Indonesia.

Sebagai

Warga Malabar Tambah Gantungan Solidaritas Covid-19

Warga Malabar Tambah Gantungan Solidaritas Covid-19

Warga memilih bahan makanan yang digantung di Jl. Malabar Tengah, Desa Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2020). (Solopos-Spesial)

Solopos.com, SOLO – Warga RW 015 Kelurahan Mojosongo menambah satu jemuran jemuran bahan makanan yang kini jemuran nomor dua di Jl. Malabar Tengah. Dengan menggalang solidaritas, Gugus Tugas Jogo Tonggo bermaksud mengedukasi protokol kesehatan Covid-19.

Ketua RW 015 Eddy Susanto menjelaskan, menambahkan satu lokasi penjemuran bahan makanan agar lebih beragam dan berdampak pada yang lain. Lokasi baru bisa menjangkau warga RW 016, RW 017, dan RW 018.

Mari Belajar Islam! Konsep Pemimpin dalam Islam …

Upaya menggalang solidaritas di tengah pandemi Covid-19 di kalangan warga ditandai dengan pemajangan tali jemuran makanan di lokasi-lokasi strategis. Bahan pangan tersebut dapat diambil secara gratis oleh warga yang membutuhkan sebagai wujud solidaritas antara orang kaya dan sesama.

Awalnya warga menyediakan satu tali jemuran di Jl. Malabar Tengah. Hanya karena meningkatnya partisipasi masyarakat yang mampu memberi kepada sesamanya maka jumlah bahan pangan pun bertambah.

Bahan Makanan Setiap Hari

“Kami dulunya lari sembako gratis setiap hari. Sempat berhenti. Kami mulai dorong lagi setiap Jumat dan Minggu. Lokasi kedua mulai Minggu kemarin. Banyak warga yang antusias menyumbang dan mengambil makanan,” ujarnya, Jumat (2/2). / 10/2020).

Dia menjelaskan, warga yang tidak memakai masker dilarang mengambil bahan makanan yang digantung sebagai bentuk solidaritas Covid-19. Langkah ini untuk mengedukasi warga …

Jika Rumah Sakit dan ICU Penuh, Apa yang Terjadi?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) sini.

Awal September lalu, Satgas Penanganan COVID-19 diminta melakukan redistribusi pasien karena kapasitas rumah sakit rujukan hampir penuh. Juru bicara Satgas mengatakan, dari 67 RS rujukan, 7 dari 67 RS rujukan 100 persen penuh, baik ruang rawat inap maupun ruang ICU.

Provinsi Bali merupakan wilayah dengan persentase penggunaan tempat tidur dan ruang isolasi tertinggi, diikuti oleh DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan Jawa Tengah. Sedangkan persentase penggunaan ICU tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta, kemudian Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Kalimantan Selatan.

Sebagian besar rumah sakit di Jakarta yang telah merujuk kasus COVID-19 kini berada dalam batas penuh. Kapasitas rumah sakit yang penuh dan sulitnya mencari rujukan pasien COVID-19 untuk mendapatkan ICU dikeluhkan oleh banyak petugas kesehatan.

Apa yang akan terjadi jika semua rumah sakit dan ruang rujukan ICU untuk COVID-19 digunakan 100 persen?

Apa yang terjadi jika ruang perawatan dan ruang ICU pasien COVID-19 penuh?

Kapasitas ruang ICU rumah sakit yang penuh dengan kasus Covid-19 melonjak

Dalam kondisi normal, ICU biasanya berjalan dengan kapasitas hingga 70%. Ini untuk menyisakan ruang bagi unit untuk memelihara sumber daya yang cukup dan memberikan ruang jika ada pasien tambahan.

Rumah sakit dapat meningkatkan kapasitas ICU untuk menampung lonjakan, seperti yang disebabkan oleh COVID-19. Tetapi masalah lain terletak pada

Dokter NU Publikasikan Penyintas Covid-19 Bisa Terinfeksi Lagi, Apa Motifnya?

Dokter NU Publikasikan Penyintas Covid-19 Bisa Terinfeksi Lagi, Apa Motifnya?

Situasi pendaftaran uji usap massal bagi pedagang ikan hias di lokasi binaan JP 23 UMKM, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Rabu (22/7/2020). (Antara)

Solopos.com, JAKARTA – Heri Munajib, dokter dari Persatuan Dokter Nadhlatul Ulama (PDNU) dalam diskusi publik beberapa waktu lalu memaparkan bahwa penderita Covid-19 berpotensi tertular kembali atau mengalami infeksi berulang. Fakta ini, menurutnya telah dibuktikan dalam beberapa kasus di Indonesia.

Itu, menurut dia, beberapa pasien tertular Covid-19 hingga dua kali lipat. “Terbukti teman saya dipukul lagi dan akhirnya diisolasi lagi. Gejala awalnya ringan lalu sembuh, dan waktu kena reinfeksi gejalanya makin parah, tapi sekarang sudah membaik. Jadi masih ada risiko infeksi ulang, katanya pada diskusi publik beberapa waktu lalu.

Penasihat Gender dan Remaja Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Diah Saminarsih juga mengatakan, berdasarkan pedoman WHO, ada kemungkinan terjadi infeksi ulang virus. korona SARS-CoV-2. Namun, Akmal Taher, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) juga menjelaskan, definisi reinfeksi yang dimaksud masih abu-abu.

Seukuran ikan paus biru, asteroid melintas di dekat bumi

“Masih agak sulit menentukan kapan harus mengatakan reinfeks. Ada yang bilang ini bukan reinfeksi. Bisa jadi tes terakhir itu salah negatif, dan dikirim pulang. Namun, kami tidak tahu berapa jumlahnya, dan mungkin hingga saat ini tidak ada cukup data untuk menyebutkan berapa jumlahnya. Itu perlu penelitian lebih lanjut, ”ujarnya.

Dokter Ines Atmosukarto, peneliti sekaligus Pejabat tertinggi Eksklusif dan kepala

Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) sini.

Obat kortikosteroid telah terbukti menyelamatkan pasien COVID-19 yang parah dari kondisi kritis. Fakta ini dibuktikan dengan beberapa penelitian dan telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Temuan ini mendapatkan izin kortikosteroid untuk digunakan secara luas. Namun, para peneliti menekankan bahwa obat ini bukan untuk menyembuhkan seseorang Infeksi covid-19

Kortikosteroid dan bukti ilmiah tentang kemanjurannya dalam membantu pasien COVID-19

Covid-19 corticosteroid dexamethasone

Penelitian tentang penggunaan kortikosteroid dalam merawat pasien COVID-19 dengan gejala gangguan pernapasan berat pertama kali dilakukan oleh peneliti China pada awal Maret lalu.

Pada Juni lalu, para peneliti di Inggris menyelidiki lebih lanjut penggunaan kortikosteroid yang dapat menyelamatkan nyawa pasien COVID-19 yang berada dalam kondisi kritis. Kortikosteroid yang digunakan adalah deksametason.

Deksametason atau deksametason adalah steroid jenis kortikosteroid. Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati pasien radang, gangguan pencernaan, asma, dan reaksi alergi.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan uji klinis langsung pada ribuan pasien COVID-19 di Inggris yang dipilih secara acak. Hasilnya, efektivitas kortikosteroid terlihat paling jelas pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen. Namun obat ini tidak berdampak signifikan pasien yang tidak membutuhkan oksigen.

Antara pasien yang membutuhkan ventilator, deksametason mengurangi angka kematian hingga 35%. Sementara di antara pasien COVID-19 yang menerima oksigen tambahan

Jadwal Razia Masker di Solo Bocor, Satpol PP Akui Tak Rahasiakan Razia

Jadwal Razia Masker di Solo Bocor, Satpol PP Akui Tak Rahasiakan Razia

Tangkapan layar jadwal kegiatan patroli cipta kondisi dalam rangka memutus penyebaran Covid-19 di Kota Solo yang tersebar melalui media sosial, Minggu (13/9/2020). (Solopos-Wahyu Prakoso)

Solopos.com, SOLO — Jadwal kegiatan patroli cipta kondisi dalam rangka memutus penyebaran Covid-19 tersebar melalui media sosial dan Whatsapp Group. Satpol PP Kota Solo akan mengubah tempat dan waktu razia masker yang telanjut bocor tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Minggu (13/9/2020), foto jadwal tersebar melalui media sosial dan Whatsapp Group sejumlah RT serta alumni sekolah. Foto menampilkan jadwal razia masker Solo berkolom hari, jam, dan lokasi yang ditandatangani oleh Kepala Satpol PP Kota Solo dan bocor ke tangan publik itu.

Kepala Satpol PP Kota Solo, Arif Darmawan, mengakui institusinya memang membagikan jadwal kepada sejumlah pihak yang berkepentingan. Namun, jadwal tersebut tersebar hingga ke warga.

Kejutkan Fans dengan Teaser Misterius, CL 2NE1 Comeback Senin!

Ia mengklaim jadwal patroli bukan suatu kerahasiaan karena Pemerintah  Kota (Pemkot) Solo gencar melakukan sosialisasi mengenai sanksi pelanggar protokol kesehatan Covid-19. “Kami memang akan melakukan kegiatan tersebut, tapi waktu dan tempatnya akan geser. Semakin banyak masyarakat tertangkap razia, kesadaran masyarakat rendah,” paparnya.

Evaluasi Razia

Menurut Arif, Satpol PP Kota Solo telah melakukan evaluasi operasi gabungan Jumat lalu. Satpol PP Kota Solo menyoroti keselamatan pada jalur cepat, akses ke sungai, serta tambahan armada pengangkut pelanggar menuju dan kembali dari sungai.

“Kemarin [kendaraan]  bolak-balik. Kami enggak menyangka …

Duar! Kasus Covid-19 di Klaten Meledak 27 Sehari, Terbanyak Wonosari

Duar! Kasus Covid-19 di Klaten Meledak 27 Sehari, Terbanyak Wonosari

Pasien Covid Klaten Sembuh Pasien Covid Pasien Polanharjo Covid Klaten Sembuh Kasus Ibu Rumah Tangga Ponorogo Covid-19 Klaten Meledak

Solopos.com, KLATEN – Kasus positif positif Covid-19 di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah kembali meledak, Kamis (27/8/2020). Tak tanggung-tanggung, 27 orang di Klaten dinyatakan terjangkit virus tersebut korona dalam sehari, salah satunya baru diketahui setelah tiga hari kematian.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Solopos.com, tambahan 27 pasien positif Covid-19 berasal dari sembilan kecamatan. Kabupaten Wonosari merupakan penyumbang terbesar yaitu 15 orang.

DKK-RSUD Sragen Promosikan Uji Usap Kontak Dekat dan Petugas Kesehatan

Sisanya, tiga dari Jogonalan, satu dari Ceper, satu dari Prambanan, tiga dari Trucuk, satu dari Cawas, satu asak dari Karangdowo, satu dari Polanharjo, dan satu dari Ngawen.

Data

Warga Ngawen yang terpapar virus korona sebenarnya meninggal pada Senin (24/8/2020). Namun demikian, hasil pengujiannya mengepel Warga yang meninggal baru saja berangkat pada Kamis (27/8/2020).

Hasil tes mengepel menunjukkan warga Ngawen positif Covid-19. Pasien asal Ngawen diduga mengidap virus tersebut korona saat melakukan aktivitas sehari-hari di Klaten. Warga Ngawen ini sempat dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jatinom (RS) sebelum meninggal dunia.

Tiga pasien positif Covid-19 dari Jogonalan diperkirakan pernah melakukan kontak dekat dengan kasus positif Covid-19 yang dikonfirmasi di masa lalu. Seorang pasien dari Ceper diketahui memiliki riwayat perjalanan ke Jakarta. Diduga pasien positif Covid-19 asal Ceper ini terpapar virus tersebut …

Ogah Kecolongan, Setiap Pasien Masuk RSUD Sragen Wajib Rapid Test

Ogah Kecolongan, Setiap Pasien Masuk RSUD Sragen Wajib Rapid Test

PDP covid-19 RSUD sragen rapid test pasien

Solopos.com, SRAGEN — RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen mengambil kebijakan melakukan screening seluruh pasien rawat inap yang masuk lewat Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun poliklinik dengan pemeriksaan rapid test.

Kebijakan itu diambil lantaran RSUD Sragen tak ingin kecolongan dengan adanya tenaga kesehatan (nakes) yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 18 orang per Selasa (18/8/2020).

Sebanyak 18 nakes itu asimtomatik dan menjalani isolasi mandiri di RSUD Sragen. Direktur RSUD Sragen dr Didik Haryanto saat ditemui Solopos.com, Selasa sore, menjelaskan nakes tersebut tidak semuanya tenaga medis.

Mal Pelayanan Publik Jenderal Sudirman Solo Diresmikan, Ini Layanan Yang Bisa Diakses

Di antara tenaga medis positif Covid-19 yang membuat RSUD Sragen mengambil kebijakan wajib rapid test bagi pasien itu ada pula dari petugas cleaning service. Juga petugas dorong amben pasien, petugas keamanan (security), dan tenaga administrasi.

“Per kemarin [Senin, 17/8/2020], jumlah nakesnya 13 orang, sekarang 14 orang. Kasus nakes yang terkonfirmasi positif meledak ini karena pasien tidak jujur. Kalau prosedur tetap [protap] di RSUD itu ada zona-zonanya. Setiap zona ada APD [alat pelindung diri] yang disesuaikan, misalnya level I, II, atau III,” jelas Didik.

Pasien Tidak Jujur

Dia menjelaskan banyaknya nakes positif Covid-19 itu diduga karena terjadi penularan di luar ruang isolasi. Dia mengatakan semua …